ESI Jawa Timur Pastikan Pembinaan Atlet Esports Tetap Berjalan di Tengah Pembatasan Medsos Anak

Kebijakan pemerintah melalui Komdigi yang membatasi akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun memicu perhatian dari berbagai sektor, termasuk dunia esports. Di Surabaya, E-Sports Indonesia (ESI) Jawa Timur menegaskan bahwa pembinaan atlet muda tetap berjalan dengan pendekatan yang lebih terarah dan terkontrol.
Organisasi ini menilai bahwa pembinaan esports tidak bisa disamakan dengan aktivitas digital tanpa arah. Oleh karena itu, mereka terus menjaga sistem pelatihan agar tetap sesuai dengan prinsip perlindungan anak sekaligus mendukung pengembangan bakat sejak dini.
ESI Jawa Timur Bedakan Latihan Profesional dengan Kecanduan Digital
Ketua Harian ESI Jawa Timur, Daniel Agung, menekankan pentingnya membedakan antara aktivitas latihan atlet dan kecanduan penggunaan teknologi. Ia menjelaskan bahwa pembinaan esports memiliki struktur yang jelas, mulai dari jadwal latihan, target peningkatan kemampuan, hingga evaluasi performa oleh pelatih.
Daniel juga mencontohkan fenomena game kasual seperti Roblox yang banyak dimainkan anak-anak. Menurutnya, game tersebut tidak termasuk dalam cabang kompetitif esports sehingga tidak berkaitan langsung dengan pembinaan atlet profesional.
Ia menegaskan bahwa penggunaan teknologi dalam konteks pembinaan harus memiliki tujuan yang jelas dan diawasi secara ketat. Sebaliknya, aktivitas digital tanpa kontrol justru berpotensi mengganggu keseimbangan kehidupan anak.
ESI Jawa Timur Tekankan Pemisahan Platform Sosial dan Ruang Kompetisi Esports
Selain itu, ESI Jawa Timur menyoroti perbedaan mendasar antara platform media sosial dan ekosistem esports. Platform sosial cenderung memiliki algoritma yang membuat pengguna terus terpapar konten tanpa batas serta membuka interaksi luas tanpa moderasi yang memadai.
Sebaliknya, ruang kompetisi esports berjalan dalam sistem yang terstruktur dan terkontrol. Lingkungan ini mengedepankan aturan, pengawasan, serta tujuan pembinaan yang jelas sehingga lebih aman bagi perkembangan anak.
Di tengah meningkatnya kasus perundungan siber, ESI Jawa Timur mengakui bahwa risiko tersebut juga dapat muncul di dunia digital, termasuk komunitas game. Oleh karena itu, organisasi ini mendukung langkah pemerintah dalam membatasi akses anak terhadap platform yang berpotensi berbahaya.
ESI Jawa Timur Dorong Edukasi Karakter dan Literasi Digital Sejak Dini
Meski mendukung kebijakan pembatasan, ESI Jawa Timur menilai bahwa pendekatan edukasi tetap menjadi kunci utama. Mereka menanamkan nilai sportivitas, etika kompetisi, serta literasi digital kepada para atlet muda sejak awal pembinaan.
Untuk mewujudkan hal tersebut, ESI Jawa Timur mengandalkan peran orang tua sebagai pengawas utama aktivitas anak. Di sisi lain, akademi dan klub bertanggung jawab memastikan pola latihan yang sehat serta memberikan pendampingan mental yang memadai.
Organisasi juga menetapkan standar pembinaan dan etika kompetisi sebagai pedoman bersama. Dengan pendekatan ini, ESI Jawa Timur berupaya menciptakan ekosistem esports yang aman sekaligus kompetitif.
ESI Jawa Timur Siapkan Pembinaan Bertahap untuk Atlet Usia Dini
Dalam menghadapi implementasi aturan Komdigi, ESI Jawa Timur menerapkan strategi pembinaan bertahap bagi atlet di bawah usia 16 tahun. Pada tahap awal, fokus pembinaan diarahkan pada pengenalan permainan yang sehat, pengembangan kemampuan motorik, kerja sama tim, serta pemahaman literasi digital.
Seiring bertambahnya usia, atlet akan diarahkan memasuki ekosistem kompetitif yang lebih serius dengan mempertimbangkan kesiapan emosional dan kedisiplinan. Pendekatan ini dilakukan agar anak tidak terlalu cepat mendapatkan tekanan dari eksposur publik.
Secara keseluruhan, ESI Jawa Timur menyatakan dukungan terhadap kebijakan pemerintah sambil tetap menjaga proses pencarian dan pengembangan bakat. Mereka juga terus melakukan konsolidasi dengan klub dan akademi serta menyiapkan pedoman pembinaan usia dini melalui berbagai kegiatan dan turnamen.
