Pengguna Smart TV LG Menyuarakan Kekesalan atas Aplikasi Copilot AI yang Tidak Bisa Dihapus

Ekspansi Copilot AI milik Microsoft kembali menuai sorotan, kali ini dari pengguna smart TV LG. Sejumlah pengguna melaporkan kemunculan aplikasi Copilot secara otomatis setelah pembaruan sistem WebOS terbaru. Kehadiran aplikasi tersebut langsung memicu keluhan karena sistem tidak menyediakan opsi untuk menghapusnya dari perangkat.
Keluhan ini mencuat pada 16 Desember 2025 dan dengan cepat menyebar di forum komunitas teknologi serta media sosial. Banyak pengguna merasa Microsoft dan LG terlalu agresif mendorong integrasi AI tanpa memberi kendali penuh kepada pemilik perangkat.
Pembaruan WebOS Menambahkan Copilot AI Secara Otomatis ke Smart TV
Pengguna smart TV LG menemukan Copilot AI muncul di layar utama setelah mereka memperbarui WebOS ke versi terbaru. Aplikasi tersebut langsung tampil sejajar dengan layanan streaming populer seperti Netflix dan YouTube, sehingga sulit diabaikan oleh pengguna.
Masalah utama muncul ketika pengguna mencoba menghapus aplikasi tersebut. Sistem tidak menyediakan fitur uninstall, membuat Copilot tetap bertahan sebagai bagian permanen dari antarmuka TV. Kondisi ini menimbulkan kesan bahwa fitur AI dipaksakan tanpa mempertimbangkan preferensi pengguna.
Microsoft dan LG Memperluas Kolaborasi AI ke Ranah Televisi
Microsoft sebenarnya telah mengonfirmasi rencana ekspansi Copilot ke berbagai perangkat sejak awal 2025. LG kemudian memperkuat langkah tersebut dengan mengumumkan pengembangan AI TV dalam ajang CES 2025, termasuk menggandeng Copilot sebagai mitra utama.
Melalui kerja sama ini, LG ingin menghadirkan pengalaman TV berbasis kecerdasan buatan yang lebih terintegrasi. Namun, implementasi awal justru memicu reaksi negatif karena pengguna merasa kehilangan kebebasan dalam mengatur perangkat yang mereka miliki.
Pengguna Menilai Integrasi AI Mengorbankan Kenyamanan dan Kendali
Meskipun Copilot di smart TV LG hanya berfungsi sebagai shortcut menuju versi web dan belum sepenuhnya terintegrasi secara mendalam, pengguna tetap menganggap kebijakan ini mengecewakan. Banyak yang menilai keberadaan aplikasi permanen melanggar prinsip kenyamanan dan pilihan personal.
Reaksi ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas terhadap tren industri teknologi. Perusahaan dinilai semakin gencar mempromosikan AI, namun sering kali mengesampingkan hak pengguna untuk menentukan fitur apa yang ingin mereka gunakan.
Keluhan pengguna smart TV LG kini menjadi pengingat bahwa adopsi teknologi baru membutuhkan keseimbangan antara inovasi dan kenyamanan. Tanpa opsi kontrol yang jelas, ekspansi AI berisiko memicu penolakan dari konsumen.
