Cloudflare Mengungkap Indonesia sebagai Sumber Serangan DDoS Terbesar di Dunia

Cloudflare merilis laporan keamanan internet yang langsung menyita perhatian publik global. Perusahaan infrastruktur internet tersebut mengungkap Indonesia sebagai sumber serangan Distributed Denial of Service atau DDoS terbesar di dunia. Temuan ini muncul dalam laporan resmi ancaman DDoS kuartal ketiga 2025 dan menempatkan Indonesia di posisi teratas, mengungguli banyak negara lain.
Laporan ini menegaskan bahwa aktivitas serangan siber dari Indonesia bukan fenomena sesaat, melainkan tren yang terus berulang dalam beberapa tahun terakhir.
Cloudflare Mencatat Lonjakan Serangan DDoS dari Indonesia Sejak 2021
Cloudflare menyusun laporan tersebut berdasarkan data internal mitigasi ancaman yang dihimpun sepanjang kuartal ketiga 2025. Dalam dokumen tersebut, Cloudflare mencatat Indonesia secara konsisten menduduki peringkat pertama sebagai sumber lalu lintas serangan DDoS global sejak kuartal ketiga 2024.
Bahkan, Cloudflare mengungkap bahwa sejak 2021 Indonesia mencatat lonjakan permintaan serangan DDoS hingga 31.900 persen. Angka tersebut menunjukkan peningkatan agresivitas serangan siber yang signifikan dan berkelanjutan.
Cloudflare Menangani Jutaan Serangan Siber Sepanjang Kuartal Ketiga 2025
Selama kuartal ketiga 2025, Cloudflare mendeteksi dan memitigasi sekitar delapan juta serangan siber di seluruh dunia. Porsi signifikan dari serangan tersebut berasal dari infrastruktur jaringan yang berlokasi di Indonesia. Fakta ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kontributor utama lalu lintas serangan DDoS global dalam laporan Cloudflare.
Cloudflare menjelaskan bahwa serangan ini memanfaatkan berbagai metode, mulai dari botnet berskala besar hingga eksploitasi perangkat yang keamanannya lemah dan terhubung langsung ke internet.
Cloudflare Menyoroti Tantangan Keamanan Siber di Indonesia
Temuan ini sekaligus menyoroti tantangan serius dalam ekosistem keamanan siber nasional. Pertumbuhan pesat perangkat terhubung internet, minimnya perlindungan jaringan, serta rendahnya kesadaran keamanan digital dinilai berkontribusi pada tingginya volume serangan.
Cloudflare menegaskan bahwa status Indonesia sebagai sumber serangan tidak selalu berarti pelaku berasal langsung dari individu lokal. Namun, kondisi infrastruktur yang rentan kerap dimanfaatkan oleh aktor siber global untuk melancarkan serangan ke berbagai target internasional.
Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia berpotensi tetap menjadi pusat lalu lintas serangan DDoS dunia dalam beberapa tahun ke depan, kecuali terjadi peningkatan signifikan pada perlindungan dan tata kelola keamanan siber nasional.
